Sexualitas Maskulin dalam Budaya Jawa

Homoseksual. Istilah ini baru muncul untuk pertama kalinya dalam bahasa Inggris pada 1890 dalam tulisan Charles Gilbert Chaddock yang menerjemahkan Psychopathia Sexualis karya R. von Krafft-Ebing. Istilah ini untuk menggambarkan seksualitas antara dua orang yang berjenis kelamin sama, baik laki-laki maupun perempuan.

Sejumlah peneliti enggan memakai istilah homoseksualitas menyangkut seksualitas maskulin yang terjadi dalam masyarakat primitif maupun masyarakat peradaban kuno, karena pada masa itu seksualitas maskulin bukan dianggap penyimpangan.

SERAT CENTHINI

Serat Centhini (salah satu karya klasik Jawa Yang disusun oleh suatu tim pengarang di bawah putra mahkota Keraton Surakarta yang kemudian menjadi Pakubuwono V, Serat Centhini, mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, )

Serat Centhini, boleh dikata sebagai ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya. Para kritikus memuji kitab ini, sebagai karya sastra Jawa yang megah, mewah, indah dan bermutu tinggi.

Serat Centhini menunjukkan bahwa

“Homoseksualitas lelaki paling tidak bukanlah sesuatu yang problematis. Melainkan, bagian keseharian dari budaya seksual Jawa yang sangat beragam”

Konteks ini berkaitan dengan tokoh bernama Cebolang yang secara garis besar ceritanya dapat dipaparkan sebagai berikut:

Cebolang yang diusir dari rumah oleh ayahnya mencari nafkah dengan memimpin rombongan kecil pementas jalanan. Anggota rombongan ini yang paling penting bernama Nurwitri, penari muda pria yang agak keperempuan-keperempuanan.
Dalam perjalanannya, rombongan ini sampai di Kabupaten Daha dan dipanggil oleh adipati untuk berpentas. Sebagaimana para istri, pejabat, pelayan dan pengikutnya, sang adipati pun terkesima oleh keterampilan para penampil, khususnya Nurwitri yang menari dengan anggun dalam pakaian perempuan.

Usai pementasan, penari muda ini diundang untuk tidur dengan sang adipati yang sangat terangsang. Nurwitri terus-terang bersedia disodomi, menyenangkan hati sang adipati dengan seni bercintanya yang hebat, dan keesokan harinya mendapat imbalan uang dan pakaian mahal. Sampai beberapa malam sang adipati bersuka cita dengan Nurwitri.

Tapi ia belakangan mengalihkan perhatiannya pada Cebolang yang lebih maskulin, yang diperintahkannya untuk menari dalam busana perempuan. Seperti sebelumnya, musik dan tari membangkitkan gairah seksualnya, dan ia pun tidur dengan Cebolang. Dipaparkan dengan gamblang, bagaimana dengan penuh kenikmatan sang adipati melakukan anal seks dengan Cebolang yang dilukiskan “lebih hebat diranjang dibandingkan dengan Nurwitri”. Ia pun mendapat imbalan yang sepadan sesudahnya.

Kemudian sesuatu yang aneh terjadi, yang sepengetahuan Ben Anderson (Peneliti budaya Indonesia dari Universitas Cornell ) tak pernah dijumpai kesejajarannya pada karya sastra Indonesia manapun.

Sang adipati menanyai Cebolang, siapakah yang lebih menikmati dalam suatu hubungan anal seks –yang memenetrasi ataukah yang dipenetrasi. Ketika Cebolang menjawab, “jauh lebih nikmat yang dipenetrasi”, sang adipati pun ingin menguji kebenaran hal tersebut. Kemudian Cebolang menyodomi lelaki tua yang kaya, berkuasa dan berpangkat tinggi itu. Apa yang terjadi? Ternyata sangat berbeda dengan apa yang dikatakan Cebolang. Di antaranya karena ukuran penis Cebolang, sang adipati sangat kesakitan, anusnya robek sehingga tak dapat duduk keesokan harinya.

Sungguh menarik menyimak penggambaran adegan-adegan tersebut, misalnya ketika sang adipati disodomi Cebolang,
“airmata berleleran di wajahnya, merintih minta belas kasihan”. Bahkan, sang adipati sampai terkecing-kencing di kasur. Cebolang merasa tersentuh dan mempercepat tekanannya untuk segera mengakhiri penderitaan sang adipati. Akhirnya, sang adipati pun “roboh dalam keletihan sepenuhnya”.
Perincian semacam itu, menurut Ben Anderson, merupakan suatu kesengajaan untuk menampilkan Cebolang sebagai seorang profesional seksual yang piawai. Ia mungkin tidak berdusta ketika mengatakan bahwa yang dipenetrasi jauh lebih menikmati daripada yang memenetrasi –hanya saja untuk mencapai hal itu orang harus berbekal ilmu dan pengalaman.

Cebolang yang dilukiskan sebagai “luwes dan terampil dalam berbagai gerakan” misalnya, begitu piawai “secara aktif mempasifkan diri” ketika disodomi.
Tapi, apakah benar-benar ada Cebolang yang dengan penuh gaya menyodomi tuan priyayinya? Apakah episode sodomi ini merupakan bagian dari gambaran penting Jawa Masa Silam? “Siapa yang yakin, Kita anggap saja demikian “ kata Ben Anderson.

Pada sisi yang lain, tembang hebat ini (Centhini) tidaklah mencerminkan kehidupan nyata, malainkan…simbol fantasi sebuah masyarakat yang memimpikan suatu kondisi kehidupan yang serba ideal.

Kendati episode sodomi dalam Centhini bukan dimaksudkan sebagai episode homoseksualitas, melainkan lebih lebih bermakna simbolis, namun sudah cukup menjelaskan bahwa hubungan seksual maskulin merupakan perilaku konstan pada kurun sejarah semua masyarakat. Sampai dengan saat Centhini selesai ditulis, istilah homoseksualitas belum dikenal.

Tulisan ini hanyalah gambaran kecil dari sebuah realitas besar yang tak pernah mengenal istilah apapun, kecuali dengan sendirinya menunjukkan satu sisi kebenaran sejarah yang selama ini barangkali selalu ditolak, atau disembunyikan. Bahwa perilaku seksual maskulin ada dalam setiap lapisan budaya masyarakat sampai ke sub-sub budaya yang tertutup.

Di Jawa Timur, kita mengenal kesenian tradisional reog dengan tradisi hubungan warok dan gemblak –yang pertama merupakan sebutan untuk laki-laki sakti yang memainkan reog, dan yang kedua adalah lelaki belia peliharaan sang warok untuk menjaga kesaktiannya.

Novel “Toenggoel” karya Eer Asura dengan gamblang menggambarkan betapa penggemblakan adalah praktik homoseksual yang diterima begitu saja, bahkan dakui oleh sebuah masyakarat di daerah Jawa Timur bagian dari tradisi mereka.

Maka sungguh mengingkari sejarah jika massa dari Forum Umat Islam (di dalamnya antara lain terdapat FPI) meneriakkan kata-kata yang mengharamkan kaum gay menginjakkan kaki di Jawa Timur ketika mereka memprotes penyelenggaraan Konferensi ILGA, di Surabaya, ataupun golongan yang mengatakan Q film festival adalah upaya menghancurkan budaya bangsa, dan lain-lain.

Tapi, memang, siapa yang perlu sejarah? kata Tom Boellstorff (penulis buku The Gay Archipelago: Seksualitas dan Bangsa di Indonesia).
Bagi kelompok-kelompok semacam FPI, yang diperlukan hanya satu teriakan keras, penuh ancaman, dan menakutkan, untuk meruntuhkan seluruh bangunan kearifan lokal warisan para pendahulu kita, yakni toleransi terhadap keberagaman.

————————————————

Sumber : Disadur langsung oleh  tulisan karya Vendi74 – Anggota Forum LGBT Indonesia

Link : Klik Disini

————————————————

Salam