HIV dan ORAL SEX

Kali ini kita akan membahas mengenai HIV dan Oral Seks. Apakah ada hubungannya ?

Banyak orang berpendapat bahwa oral seks memiliki resiko penyebaran HIV yang cenderung lebih rendah ataupun malah sebenarnya tidak beresiko. Yang lain lagi mengatakan bahwa oral seks adalah alternatif seks yang lebih aman. Faktanya adalah, sama seperti kegiatan seksual yang lainnya, oral seks sebenarnya tetap memiliki resiko dalam penyebaran HIV dan penyakit-penyakit menular seksual yang lain. Resikonya bahkan lebih besar bagi pasangan Serodiskordan (satu HIV positif, satu HIV negatif), mereka yang monogami, atau mereka yang menggunakan obat-obatan terlarang dengan jarum suntik yang dipakai secara bersamaan. Jadi sebenarnya baik Oral Seks, Anal Seks, ataupun Vaginal Seks, semua memiliki resiko terhadap penularan HIV, tetapi seberapa besarkah resikonya ?

Apa Saja Resiko dari Oral Seks ?

Resiko disini dibagi kedalah 2 hal yaitu :
1. Resiko yang Terdokumentasikan (Documented Risk), yaitu penularan HIV melalui oral seks yang sudah diteliti dan diinvestigasi serta dibukukan dalam semuah jurnal ilmiah.
2. Resiko yang Teoritis(Theoretical Risk), yaitu penularan HIV dari satu orang ke orang lain lewat oral seks , dimungkinkan.

Memang berdasarkan secara penelitian, penyebaran HIV melalui oral seks jauh lebih kecil dibandingkan dengan anal seks dan vaginal seks. Tetapi perhitungan resiko menjadi sulit karena pada kenyataannya mereka yang melakukan oral seks juga melakukan anak seks dan vaginal seks.

Tapi disini kita akan membahas penularan HIV melalui oral seks baik secara Teoritis ataupun Terdokumentasikan.
Oral Seks Pada Penis (Fellatio)

Resiko Teoritis : Ketika melakukan oral seks pada Penis maka penis akan terstimulasi sehingga mengeluarkan cairan pre-ejakulasi atau yang kita sebut pre-cum. Bagi mereka yang sudah terinfeksi HIV, cairan pre-cum ini juga membawa virus-virus HIV. HIV bisa menulari mereka yang secara aktif  menjilati Penis (pasangan insertif). Ketika dalam melakukan oral seks ternyata di bagian mulut dan gusi peng-oral terdapat luka, pendarahan atau goresan maka hal ini bisa menjadi cara untuk terinfeksi HIV. Hal ini juga terjadi untuk oral seks pada vagina yang diterima dari cairan vagina (Vaginal Fluid).

Resiko Terdokumentasikan : Walaupun memang terbukti bahwa resiko penularan HIV melalui oral seks adalah lebih kecil dibandingkan dengan Anal Seks ataupun Vaginal Seks tetapi virus HIV telah terbukti bisa menulari seseorang dengan melakukan Oral Seks pada Penis, bahkan ketika pasangannya tidak ejakulasi sekalipun (hanya mengeluarkan pre-cum).

 

Oral Seks Pada Anal (Anilingus) -  Rimming

Resiko Teoritis : Melakukan oral seks pada bagian anal juga membawa resiko terhadap penularan HIV pada mereka yang menjilat anus (pasangan insertif). Hal ini terjadi jika di bagian anus terdapat paparan darah yang terinfeksi HIV. Paparan darah ini bisa ada karena contoh : Tinja yang berdarah, atau adanya luka di daerah dubur atau anus.
Pasangan Reseptif (orang yang dioral) juga beresiko dalam hal ditulari HIV, hal ini jika pasangan Insertif (orang yang mengoral) mereka ternyata terinfeksi HIV. Jika terdapat luka pada bagian mulut atau gusi dan menyebabkan adanya paparan darah, dan paparan darah yang bercampur dengan air liur tersebut mengalami kontak langsung dengan lapisan anus atau dubur, terlebih jika terdapat luka pada anus atau dubur tersebut.

Resiko Terdokumentasikan : Sampai saat ini setidaknya ada satu kasus penularan HIV yang sudah resmi diterbitkan sebagai studi ilmiah berkatian dengan Oral Seks pada Anal (Analingus) ini.
Jadi ternyata walaupun memang resiko melakukan oral seks terhadap penularan HIV memang tidak sebenar Anal Seks dan Vaginal Seks, tetapi tetap tidak mengurangi resiko penularan HIV melalui cara seks yang satu ini yah teman-teman….

Jadi tetap waspada yah guys…. ! ^.^v

(A)

 

Salam